Nihauma....
Kali ini aku mau berbagi pengalaman ikut SBMPTN..
Aku adalah lulusan SMK tahun 2014 di sebuah SMK Negeri di Pati, Jawa Tengah.
Tentu saja kuliah adalah keinginanku saat itu. Tapi dikarenakan ekonomi keluarga yang tak memungkinkan untukku kuliah, akupun bekerja dulu. Kuputuskan untuk merantau, karena gaji pekerjaan di luar kota lebih menjanjikan untukku bisa menabung..
Sendirian, di sebuah kota di Serang, Banten. Aku bekerja di sebuah pabrik sepatu PT.Pouchen Indonesia atau lebih dikenal PT. Nikomas Gemilang. Pemiliknya adalah orang Taiwan, dan sepatu yang di produksi untuk ekspor semua. Nike, Adidas, Puma, Asics, Under Armour, Saucony, K-Swiss. Perusahaannya besar, makan gratis 3 kali sehari, disediakan mess, tidur, mandi gratis tanpa biaya. Dan gaji juga besar. Tapi pekerjaan banyak tuntutan. Disitulah aku harus tetap menguatkan diri demi cita-cita untuk bisa kuliah pada saat itu. Setelah dapat 1,5 tahun bekerja, aku memutuskan untuk ikut tes SBMPTN. Tahun itu adalah tahun dimana kesempatan terakhirku untuk bisa mengikuti SBMPTN karena kesempatan untuk setiap lulusan memang ada tenggat waktunya. Dan tahun itu pula, adalah pengalaman pertamaku mengikutinya. Jadi bisa dibayangkan, tidak ada pengalaman, tidak tahu medan perang dengan baik, kesempatan terakhir pula. Aku hanya bisa berusaha semaksimal yang aku bisa.
Banyak hal yang sudah aku korbankan untuk bisa mengikuti tes, seperti bolos kerja, ke bank untuk bayar tes, ikut tes SBMPTN nya di sebuah kampus di Banten dengan beribu pendaftar. Aku melakukannya sendiri tanpa ibuku tahu. Riwa riwi sendiri.
Aku juga survey lokasi ujian dan survey kampus yang aku incar. Karena persyaratan di SBMPTN, harus memilih kampus yang ada di wilayah tempat tes, yang berarti aku harus memilih kampus di Serang, Banten, akupun memilih UNTIRTA(Universitas Sultan Ageng Tirtayasa). Universitas Negeri yang ada di Serang sebagai pilihan pertama, UNNES sebagai pilihan ke dua dan ke tiga.
Disaat hari H ujian, tak kusangka macet di jalan. Aku juga mabuk kendaraan. Rasanya sudah ketar ketir, apakah telat atau tidak. Dan agak pasrah. Itupun tak ada orang yang tahu..
Sampailah di tempat ujian, aku mengerjakan dengan semaksimal yang aku tahu, dengan beribu orang yang juga ikut ujian, tak ada yang aku kenal seorangpun. Mereka dan aku berjuang untuk mendapatkan salah satu kursi di universitas, itu berarti mereka adalah musuhku. Bukan sih, sebenernya musuhku adalah soal-soal itu. He...
Menurutmu apakah aku lolos? Aku hanya berfikir, bila aku tak lolos aku bakal sedih, tapi bila aku lolos aku bakal bingung bagaimana biaya kuliah nanti.
Hari H pengumuman pun tiba. Di sebuah warnet dengan berbekal makanan yang aku beli, Bakso, dan jajan-jajan pinggir jalan. Karena dalam hati, bila nanti aku tak lolos, aku akan melampiaskan ke makanan, untuk mengurangi sedihku. He...
Aku agak was-was, dan tak mau berharap banyak untuk lolos, takut sakit hati. Akupun menghibur diri dulu dan menguatkan hati dan dalam hati aku berkata tak apa, pasti ada jalan yang lebih baik dan ini bukan jalannya. Padalah disaat itu aku belum buka pengumumannya..
Aku tulis nama dan no sandiku di website pengumuman. Dan keterangannya adalah...
"SELAMAT ANDA LOLOS DI UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA, PRODI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA"
Dalam hati aku berkata "Wah, ini beneran?" sambil mringis senyum, gemeteran, mrinding,seneng banget nggak percaya. Sambil terus membaca pengumuman, apa ini nggak salah kata, dalam hati.
Aku langsung memfoto pengumuman itu untuk kenang-kenangan. He... Alhamdulillah... berulang-ulang kukatakan sambil masih gemeteran.
Malam itu aku langsung memberitahukan kabar gembira itu ke ibu. Ibu juga seneng, Alhamdulillah..Tapi beliau was-was dengan biaya. Akupun bilang padanya akan berusaha untuk mengajukan bidik misi..
Pengorbanan belum sampai disitu, aku ke UNTIRTA langsung untuk membicarakan bidikmisi di bagian kemahasiswaan. Sendirian. Istirahat di masjid UNTIRTA tanpa ada seorangpun yang aku kenal.Kayak orang ilang beneran..Dan disitu aku juga melakukan tes lagi, tes narkoba, buta warna, mengumpulkan berkas, tes kesehatan juga. Khusus untuk tes narkoba tidak dilakukan di kampus, tapi di klinik terdekat. Dan bayar 150 ribu untuk hanya mendapatkan satu lembar kertas bertuliskan bebas narkoba. 'Ya Allah mahal banget' dalam hati..
Dari pagi sampai sore aku baru pulang di mess tercinta. Tak berapa lama, adalah bulan Ramadhan, dan mendekati hari idul fitri, aku pulang kampung. Lebaran hanya beberapa hari di rumah, itupun untuk mengurus berkas permohonan bidikmisi yang masih kurang. Balik ke Serang lagi, karena libur nya sudah habis, aku bolak-balik lagi ke kampus.
Dan di suatu malam, aku ditelfon ibu, ibuku tiba-tiba keberatan dengan aku kuliah di Banten. Alasannya adalah jauh dari rumah untuk waktu 4 tahun lagi. Ibuku juga sendirian di rumah tak ada temennya tak sanggup untuk waktu yang lama tanpa aku.
Dan apa keputusanku setelah sekian lama aku berkorban demi kuliah? Dari mulai pendaftaran sampai mengurusi bidikmisi. Aku Menyerah, mendengarkan kata ibu. Restu orangtua jauh lebih penting walau aku tak bisa menyembunyikan kesedihan dan kadang masih ada penyesalan sampai sekarang. Tapi aku berniat akan membalasnya, dengan aku bisa mendapatkan ganti dari itu semua. Membayar semua pengorbananku itu dengan kesuksesanku kelak. Tentu saja aku tak akan melupakan itu semua. Tak akan pernah. Untukku bisa lebih semangat lagi dalam membalasnya. Dalam mencapai mimpiku yang lebih indah lagi. Aku bertekad... Bismillah.... :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar