Naruto Uzumaki Running

Selasa, 22 Mei 2018

Lakukan Walau Hanya Sendiri. Kenapa Tidak?

Pernah nggak saat kamu melakukan suatu hal yang baik secara berkelompok dengan teman dekatmu. Dan saat melakukan itu sangat mengasyikkan karena memang kamu tidak sendiri. Dan saat kamu melakukan itu sendirian, kamu lebih memilih tak melakukannya.
Contohnya, dulu saat masih SMA, di bulan Ramadhan, aku beramai-ramai semangat banget untuk melakukan sholat subuh berjamaah, sholat tarawih dan tadarus di mushola. Karena apa? Ada teman yang selalu bareng aku melakukan itu semua. Jadi kita merasa termotivasi untuk melakukan hal baik karena memang ada temannya..
Tapi setelah kita disibukkan untuk kuliah, teman yang dulu bareng untuk melakukan itu, sekarang ada di luar kota. Lalu bagaimanakah nasib kita? Ada rasa malas, tak ada keseruan lagi karena tak ada temannya. Dan dalam hati, 'Ah, yasudahlah. Tadarus di rumah aja, sholat subuh di rumah aja' dll..
Suatu hari, ada suatu pesan yang tak sengaja aku tangkap dari seseorang. Dia berbicara sama orang lain, tapi aku tak sengaja denger. "Lakukan hal baik, walau sendirian. Toh, saat kamu mati, amal setiap orang adalah kewajiban masing-masing orang itu. Orang lain tak bertanggungjawab atas amalmu begitupun sebaliknya."
Jujur, aku terenyuh banget dengernya... Aku sependapat..
Sampai sekarang, aku masih inget kata-kata itu. Dan sebisa mungkin bisa mengaplikasikannya sendiri..

Senin, 21 Mei 2018

Pesan Ramadhan 2018. Ahli Surga

Ada si fulan, sebut saja Husain, yang bertemu nabi Muhammad.
Nabi Muhammad SAW berkata padanya, "Dia adalah ahli surga." sambil menunjuk si fulan yang lain, sebut saja Ikhsan.
Lantas Husain pun berfikir dalam hati. Bagaimana bisa Ikhsan disebut nabi Muhammad SAW sebagai ahli surga? Saking penasarannya dia pun menghampiri Ikhsan di kediamannya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh". jawab Ikhsan
"Saudaraku Ikhsan, bolehkah saya menginap beberapa hari di kediamanmu? Karena saya ingin mencari barang untuk di jual di sekitar sini." terang Husain mencoba meyakinkan Ikhsan agar bisa menginap dan mencari tahu apa keistimewaan Ikhsan yang disebut sebagai ahli surga.
"Boleh saudaraku. Silahkan."
Hari Pertama
Ikhsan hanya mengerjakan sholat 5 waktu di rumah seperti biasa, tak ada yang lebih dari itu.
Hari Kedua
Ikhsan juga tak melakukan puasa sunnah setiap waktu, ibadah sholat sunnah juga jarang.. 'Lantas apa yang membuat dia bisa di sebut ahli surga?' Husain pun tambah penasaran.
Hari Ketiga
Husain masih mengamati kebiasaan yang di lakukan Ikhsan. Namun tak ada perubahan. Semua yang dilakukan Ikhsan adalah ibadah yang biasa saja. Husain pun tambah frustasi bertanya-tanya dalam hati.
Melihat Husain yang tampak tak baik dari raut wajahnya, Ikhsan pun bertanya..
"Ada apakah gerangan wahai saudaraku? Wajahmu sepertinya menyiratkan kebingungan? Sudahkah menemukan barang-barang yang akan kamu jual di kotamu dari sini?" tanya Ikhsan.
"Maafkan saya saudaraku. Sebenarnya saya berbohong bahwa saya ingin mencari barang-barang untuk dijual lagi. Saya menginap di kediamanmu hanya ingin mengetahui keseharianmu seperti apa. Karena kata Nabi, kamu adalah ahli surga." terang Husain sambil menunduk pasrah.
"Jadi seperti itu." jawab Ikhsan sambil tersenyum. "Saya bukanlah orang yang istimewa saudaraku. Keseharian saya biasa-biasa saja, ibadah wajib dan tidak setiap waktu melakukan ibadah sunnah. Tapi ada 2 hal yang saya tidak pernah untuk melakukannya." terang Ikhsan.
"Apakah gerangan itu wahai saudaraku?"tanya Husain balik.
"Saya tidak pernah iri pada orang lain. Dan saya tidak pernah membicarakan keburukan orang."

Kamis, 17 Mei 2018

Semua Pilihan Punya Resiko

Ohaiyo Gozaimasu...
Di hidup ini banyak jenis orang.
Orang yang hanya jadi ibu rumah tangga. Setiap hari di rumah, mengurusi kebutuhan rumah tangga, masalah dapur, mengurus anak, setiap hari di rumah, tanpa sadar hari berganti, bangun tidur di rumah, sampai sore, malam, tidur, pagi nya seperti itu lagi. Terus berulang...
Ada juga orang yang selalu disibukkan sama keinginannya sekolah setinggi-tingginya, bahkan mengejar karir adalah yang terpenting untuknya. Setiap hari disibukkan tugas, yang bahkan orang-orang seperti ini tak mempedulikan lingkungan Tapi kebanyakan masalah jodoh, dia belum menemukan..
Ada yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga sambil jadi wanita karir. Nah ini lebih kompleks. Mereka harus bisa membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Orang-orang seperti ini bekerja dari pagi sampai sore, sampai rumah mungkin hanya sebentar waktu mereka bersama keluarga. Lebih banyak waktu bekerja dan di rumah juga untuk tidur.Karena pada zaman sekarang, tidak cuma laki-laki yang bekerja, perempuan sebagai ibu rumah tanggapun juga ikut bekerja. Semua itu demi apa? Karena mereka ingin membantu ekonomi keluarga, ada juga yang mungkin suaminya berkecukupan tanpa harus dia bekerja, tapi si wanita memang ingin bekerja, tak ingin jadi ibu rumah tangga saja.
Semua itu adalah pilihan, setiap orang berhak memilih untuk hidupnya, hidup seperti apa yang ingin dia jalani. Tapi setiap pilihan memang ada resikonya. Pasti..
Jadi misal contohnya kita sekarang memilih bekerja sambil mengurus rumah tangga (sebagai wanita), kita tak perlu mengeluh dengan segala resiko yang sedang atau akan kita alami nanti, ya karena memang itu adalah kehidupan yang kita pilih...
Jadi ya jalani saja karena itu sudah pilihan kita..

Selasa, 15 Mei 2018

Ikut SBMPTN. Pengalaman Pertama dan Kesempatan Terakhir

Nihauma....
Kali ini aku mau berbagi pengalaman ikut SBMPTN..
Aku adalah lulusan SMK tahun 2014 di sebuah SMK Negeri di Pati, Jawa Tengah.
Tentu saja kuliah adalah keinginanku saat itu. Tapi dikarenakan ekonomi keluarga yang tak memungkinkan untukku kuliah, akupun bekerja dulu. Kuputuskan untuk merantau, karena gaji pekerjaan di luar kota lebih menjanjikan untukku bisa menabung..
Sendirian, di sebuah kota di Serang, Banten. Aku bekerja di sebuah pabrik sepatu PT.Pouchen Indonesia atau lebih dikenal PT. Nikomas Gemilang. Pemiliknya adalah orang Taiwan, dan sepatu yang di produksi untuk ekspor semua. Nike, Adidas, Puma, Asics, Under Armour, Saucony, K-Swiss. Perusahaannya besar, makan gratis 3 kali sehari, disediakan mess, tidur, mandi gratis tanpa biaya. Dan gaji juga besar. Tapi pekerjaan banyak tuntutan. Disitulah aku harus tetap menguatkan diri demi cita-cita untuk bisa kuliah pada saat itu. Setelah dapat 1,5 tahun bekerja, aku memutuskan untuk ikut tes SBMPTN. Tahun itu adalah tahun dimana kesempatan terakhirku untuk bisa mengikuti SBMPTN karena kesempatan untuk setiap lulusan memang ada tenggat waktunya. Dan tahun itu pula, adalah pengalaman pertamaku mengikutinya. Jadi bisa dibayangkan, tidak ada pengalaman, tidak tahu medan perang dengan baik, kesempatan terakhir pula. Aku hanya bisa berusaha semaksimal yang aku bisa.
Banyak hal yang sudah aku korbankan untuk bisa mengikuti tes, seperti bolos kerja, ke bank untuk bayar tes, ikut tes SBMPTN nya di sebuah kampus di Banten dengan beribu pendaftar. Aku melakukannya sendiri tanpa ibuku tahu. Riwa riwi sendiri.
Aku juga survey lokasi ujian dan survey kampus yang aku incar. Karena persyaratan di SBMPTN, harus memilih kampus yang ada di wilayah tempat tes, yang berarti aku harus memilih kampus di Serang, Banten, akupun memilih UNTIRTA(Universitas Sultan Ageng Tirtayasa). Universitas Negeri yang ada di Serang sebagai pilihan pertama, UNNES sebagai pilihan ke dua dan ke tiga.
Disaat hari H ujian, tak kusangka macet di jalan. Aku juga mabuk kendaraan. Rasanya sudah ketar ketir, apakah telat atau tidak. Dan agak pasrah. Itupun tak ada orang yang tahu..
Sampailah di tempat ujian, aku mengerjakan dengan semaksimal yang aku tahu, dengan beribu orang yang juga ikut ujian, tak ada yang aku kenal seorangpun. Mereka dan aku berjuang untuk mendapatkan salah satu kursi di universitas, itu berarti mereka adalah musuhku. Bukan sih, sebenernya musuhku adalah soal-soal itu. He...
Menurutmu apakah aku lolos? Aku hanya berfikir, bila aku tak lolos aku bakal sedih, tapi bila aku lolos aku bakal bingung bagaimana biaya kuliah nanti.
Hari H pengumuman pun tiba. Di sebuah warnet dengan berbekal makanan yang aku beli, Bakso, dan jajan-jajan pinggir jalan. Karena dalam hati, bila nanti aku tak lolos, aku akan melampiaskan ke makanan, untuk mengurangi sedihku. He...
Aku agak was-was, dan tak mau berharap banyak untuk lolos, takut sakit hati. Akupun menghibur diri dulu dan menguatkan hati dan dalam hati aku berkata tak apa, pasti ada jalan yang lebih baik dan ini bukan jalannya. Padalah disaat itu aku belum buka pengumumannya..
Aku tulis nama dan no sandiku di website pengumuman. Dan keterangannya adalah...
"SELAMAT ANDA LOLOS DI UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA, PRODI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA"
Dalam hati aku berkata "Wah, ini beneran?" sambil mringis senyum, gemeteran, mrinding,seneng banget nggak percaya. Sambil terus membaca pengumuman, apa ini nggak salah kata, dalam hati.
Aku langsung memfoto pengumuman itu untuk kenang-kenangan. He... Alhamdulillah... berulang-ulang kukatakan sambil masih gemeteran.
Malam itu aku langsung memberitahukan kabar gembira itu ke ibu. Ibu juga seneng, Alhamdulillah..Tapi beliau was-was dengan biaya. Akupun bilang padanya akan berusaha untuk mengajukan bidik misi..
Pengorbanan belum sampai disitu, aku ke UNTIRTA langsung untuk membicarakan bidikmisi di bagian kemahasiswaan. Sendirian. Istirahat di masjid UNTIRTA tanpa ada seorangpun yang aku kenal.Kayak orang ilang beneran..Dan disitu aku juga melakukan tes lagi, tes narkoba, buta warna, mengumpulkan berkas, tes kesehatan juga. Khusus untuk tes narkoba tidak dilakukan di kampus, tapi di klinik terdekat. Dan bayar 150 ribu untuk hanya mendapatkan satu lembar kertas bertuliskan bebas narkoba. 'Ya Allah mahal banget' dalam hati..
Dari pagi sampai sore aku baru pulang di mess tercinta. Tak berapa lama, adalah bulan Ramadhan, dan mendekati hari idul fitri, aku pulang kampung. Lebaran hanya beberapa hari di rumah, itupun untuk mengurus berkas permohonan bidikmisi yang masih kurang. Balik ke Serang lagi, karena libur nya sudah habis, aku bolak-balik lagi ke kampus.
Dan di suatu malam, aku ditelfon ibu, ibuku tiba-tiba keberatan dengan aku kuliah di Banten. Alasannya adalah jauh dari rumah untuk waktu 4 tahun lagi. Ibuku juga sendirian di rumah tak ada temennya tak sanggup untuk waktu yang lama tanpa aku.
Dan apa keputusanku setelah sekian lama aku berkorban demi kuliah? Dari mulai pendaftaran sampai mengurusi bidikmisi. Aku Menyerah, mendengarkan kata ibu. Restu orangtua jauh lebih penting walau aku tak bisa menyembunyikan kesedihan dan kadang masih ada penyesalan sampai sekarang. Tapi aku berniat akan membalasnya, dengan aku bisa mendapatkan ganti dari itu semua. Membayar semua pengorbananku itu dengan kesuksesanku kelak. Tentu saja aku tak akan melupakan itu semua. Tak akan pernah. Untukku bisa lebih semangat lagi dalam membalasnya. Dalam mencapai mimpiku yang lebih indah lagi. Aku bertekad... Bismillah.... :)