Masa kecil yang penuh kegembiraan. Tak memikirkan tekanan dari orang lain. Kita bebas berekspresi. Kebebasan itu adalah sejatinya kebahagiaan bagi anak kecil. Makannya saat dewasa, kenapa orang ingin kembali ke masa kecil, karena mereka tak tahan dengan segala tekanan kehidupan yang tidak memberikan mereka ruang untuk bernafas lega, bersantai dan menikmati kehidupan tanpa tuntutan.
Dulu masa kecilku, aku juga bersaing. Dengan seseorang yang masih keluarga, saudara sekaligus teman. Dia menyebalkan saat itu. Aku ingin mengalahkannya, tapi dalam sisi positif. Bahkan aku pun iri setiap pencapaiannya. Aku ingin kita terus berkompetisi. Memenangkan segala kompetisi antara kita berdua adalah keseruan kita. Bukan hal negatif, melalui itu, kita bisa mempunyai semangat juang untuk bertahan dalam kehidupan yang semakin keras ini. Aku pun terus ingin menjadi pribadi yang baik dan lebih baik lagi.
Di masa dewasa, bukan hanya tuntutan kehidupan yang bisa membuat sebagian orang menjadi lemah. Namun sebuah rasa tidak dihargai orang lain atas apa yang mereka kerjakan. Sejatinya sifat orang memang tak luput dari keinginan untuk dihargai orang lain atas jerih payah yang mereka kerjakan. Kembali lagi kita buka kitab penerang kehidupan umat Islam Bahwasanya kita dianjurkan untuk tidak berharap apapun kepada manusia, termasuk berharap atas kehormatan. Karena bila bukan kehormatan yang kita dapat, kita akan kecewa. Untuk mereka sang penyembah kehormatan, kedudukan.
Sudah berkali-kali kata-kata Islami berdengung di buku maupun sosial media. Bahwasanya manusia itu semua sama. Tidak sepantasnya menyombongkan hal yang tak abadi kita bawa mati. Yang membedakan hanyalah iman dan takwa. Kadar amal untuk bekal akhirat.
Namun kembali lagi, kita banyak menemui orang yang sangat haus akan kedudukan, kehormatan dan kesewenang-wenangan. Atau bahkan kita salah satu orang tersebut namun kita tak sadar.
Ada juga orang yang saat melihat kita bahagia, mereka benci. Saat melihat kita sengsara, mereka bahagia. Beginilah hidup. Maka, jangan tunjukkan kebahagiaanmu kepada khalayak ramai. Cukup rasakan dan berbagi kebahagiaanmu dengan keluarga dan orang-orang yang menyayangimu.
Bentengi diri kepada sang Pencipta, karena sebaik-baik pegangan yang tak pernah runtuh.
Kembali lagi ke teman masa kecil, sekaligus lawan dalam artian teman berjuang. Dia sekarang tak ada kabar. Kami tidak pernah berhubungan bahkan di era yang semakin canggih adanya teknologi. Dia seperti mencoba untuk menghapus masa lalu, berjuang sendirian untuk mencapai masa depan nya.
Kuceritakan ini, karena aku ingin menyimpannya dalam memoriku, bahwa dia adalah teman masa kecilku, saudara dan partner berjuang ku dulu. Yang aku ingin mengingatnya saat aku mulai lemah untuk berjuang dewasa ini.
Aku masih punya mimpi. Banyak sekali. Namun ada faktor yang membuat mimpi itu tertutupi batu bata sedikit demi sedikit. Hingga aku ragu untuk bisa mencapainya, hingga aku tak dapat melihatnya lagi.
Aku ingin besekolah hingga S2, namun tak disetujui oleh calon imam ku kelak. Mungkin akan beda cerita saat aku mempunya seseorang yang juga bervisi untuk pendidikan. Dia yang dapat mengijinkanku dan menyemangatiku bahkan ikut sepertiku untuk menimba ilmu lebih tinggi lagi. Dan kita berjuang sama-sama untuk meraih kesuksesan bersama.
Apa solusinya Ya Allah? Apakah aku harus menunda mimpi ku untuk pendidikan. Apakah aku harus berkeluarga dulu. Menabung untuk memiliki rumah idaman dan menyekolahkan anak-anak ku kelak. Baru berjuang untuk pendidikan ku di masa tua ku? Aku takut mimpiku terkubur seiring usia ku bertambah. Aku takut menyerah dalam memperjuangkan mimpiku sekolah setinggi-tinggi nya.
Semoga engkau calon imam ku, membaca ini dan mengerti akan perasaanku.
My Adventure Life
Rabu, 11 September 2019
Jadilah Buta, Bisu dan Tuli untuk Hal Negatif yang Mencoba Mempengaruhi dan Membuat Kita Down
Kata orang, jangan jadi orang yang buta, bisu dan tuli untuk menerima nasihat baik dan melihat lingkungan sekitar dengan penuh kesadaran. Agar kita bisa berempati dan tidak egois menjadi pribadi.
Itu benar.
Namun di dunia ini selain hal positif juga ada hal negatif. Kita perlu membuka mata, telinga dan mulut untuk menerima segala hal positif. Apalagi ilmu yang bermanfaat bisa kita peroleh dari mana saja. Tentu saja untuk membuat kita bisa lebih 'wise' bijak dalam menyikapi kehidupan dengan segala problematika nya. Kita bisa lebih dewasa, cerdas menyikapi dan tetap bahagia selalu, hati yang lapang dan penuh kesyukuran di tengah berbagai hal negatif yang mengepung..
Untuk menyikapi hal negatif tersebut, kita perlu menjadi orang yang buta, bisu dan tuli. Tak perlu melihat hal yang tak seharusnya kita lihat. Hal negatif yang mencoba meracuni fikiran kita. Anggap saja mata kita tembus pandang.
Jadi bisu atas keadaan berantakan yang mencoba memerangi kita. Jangan biarkan kata-kata negatif keluar dari mulut kita yang berharga ini. Kita pun bisa menjaga hati agar tetap tersenyum walau dunia menyuruh untuk kita nelangsa.
Jadi tuli, tak perlu memasukkan suara-suara yang mencoba membuat kita terpengaruh dan ikut down. Biarlah mereka berbicara apapun dibelakang kita, bahkan bisa jadi di depan kita. Namun hati kita berhak untuk tetap tenang. Menanggap semua itu seperti angin hanya hanya lewat tanpa bisa menerkam kita. Kita berhak untuk tetap tersenyum manis, dengan hati yang berbunga-bunga walau mereka mengancam kita dan ingin membunuh kita.
Hati yang sakit, biarkan saja mereka. Mereka berhak berekspresi apapun. Karena itu kehidupan mereka. Mereka bukan pemeran utama, yang terus melihat orang lain dengan penuh kebencian. Biarlah mereka menjadi pemeran pendukung dalam kisah perjuangan sukses kita. Biarlah mereka menjadikan kita lebih cerdas dan kuat.
Begitupun hati, hati kita sangat berharga daripada bagian tubuh yang lain. Karena hati akan mempengaruhi otak, dan mempengaruhi apa yang kita lakukan dan kehidupan kita.
Jadilah hati yang terus mengingat-Nya. Hati yang sadar, bahwa dunia ini hanyalah sendau gurau semata. Bahwa hidup ini hanyalah sia-sia tanpa iman dan amal sholeh. Tetap berpegang teguh pada Dzat yang tak akan pernah bisa Tumbang dan Mati. Dia lah Allah, sang Pencipta.
Apapun kesemprawutan kehidupan yang ditawarkan, kita bisa tetap kuat. Karena Allah ada di samping kita. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus...
Itu benar.
Namun di dunia ini selain hal positif juga ada hal negatif. Kita perlu membuka mata, telinga dan mulut untuk menerima segala hal positif. Apalagi ilmu yang bermanfaat bisa kita peroleh dari mana saja. Tentu saja untuk membuat kita bisa lebih 'wise' bijak dalam menyikapi kehidupan dengan segala problematika nya. Kita bisa lebih dewasa, cerdas menyikapi dan tetap bahagia selalu, hati yang lapang dan penuh kesyukuran di tengah berbagai hal negatif yang mengepung..
Untuk menyikapi hal negatif tersebut, kita perlu menjadi orang yang buta, bisu dan tuli. Tak perlu melihat hal yang tak seharusnya kita lihat. Hal negatif yang mencoba meracuni fikiran kita. Anggap saja mata kita tembus pandang.
Jadi bisu atas keadaan berantakan yang mencoba memerangi kita. Jangan biarkan kata-kata negatif keluar dari mulut kita yang berharga ini. Kita pun bisa menjaga hati agar tetap tersenyum walau dunia menyuruh untuk kita nelangsa.
Jadi tuli, tak perlu memasukkan suara-suara yang mencoba membuat kita terpengaruh dan ikut down. Biarlah mereka berbicara apapun dibelakang kita, bahkan bisa jadi di depan kita. Namun hati kita berhak untuk tetap tenang. Menanggap semua itu seperti angin hanya hanya lewat tanpa bisa menerkam kita. Kita berhak untuk tetap tersenyum manis, dengan hati yang berbunga-bunga walau mereka mengancam kita dan ingin membunuh kita.
Hati yang sakit, biarkan saja mereka. Mereka berhak berekspresi apapun. Karena itu kehidupan mereka. Mereka bukan pemeran utama, yang terus melihat orang lain dengan penuh kebencian. Biarlah mereka menjadi pemeran pendukung dalam kisah perjuangan sukses kita. Biarlah mereka menjadikan kita lebih cerdas dan kuat.
Begitupun hati, hati kita sangat berharga daripada bagian tubuh yang lain. Karena hati akan mempengaruhi otak, dan mempengaruhi apa yang kita lakukan dan kehidupan kita.
Jadilah hati yang terus mengingat-Nya. Hati yang sadar, bahwa dunia ini hanyalah sendau gurau semata. Bahwa hidup ini hanyalah sia-sia tanpa iman dan amal sholeh. Tetap berpegang teguh pada Dzat yang tak akan pernah bisa Tumbang dan Mati. Dia lah Allah, sang Pencipta.
Apapun kesemprawutan kehidupan yang ditawarkan, kita bisa tetap kuat. Karena Allah ada di samping kita. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus...
Jumat, 06 September 2019
Iri yang baik
Aku melihatnya, hingga aku lupa rasa sakit perjuangan
Aku melihatnya, hingga aku tak kenal makna mengeluh
Aku melihatnya, hingga tanpa sadar sudah melangkah jauh dari aku yang dulu
Aku melihatnya, hingga darah di tubuhku mendidih, ingin memporak porandakan kemalasan dan melesat jauh...
Aku melihatnya terlampau jauh.. Hingga aku terobsesi untuk terus berjuang menjadi lebih dan lebih baik lagi...
Terimakasih karena engkau terus berjuang dan membuatku terus berjuang
Aku melihatnya, hingga aku tak kenal makna mengeluh
Aku melihatnya, hingga tanpa sadar sudah melangkah jauh dari aku yang dulu
Aku melihatnya, hingga darah di tubuhku mendidih, ingin memporak porandakan kemalasan dan melesat jauh...
Aku melihatnya terlampau jauh.. Hingga aku terobsesi untuk terus berjuang menjadi lebih dan lebih baik lagi...
Terimakasih karena engkau terus berjuang dan membuatku terus berjuang
Kamis, 08 November 2018
Kita Punya Hak untuk Bahagia
Assalamualaikum...
Alhamdulillahirobbil'alamin kita masih diberikan nikmat sehat sampai hari ini.
Sahabat Umi, pernahkah kalian merasa terombang ambing mengikuti apa yang dikatakan orang? Seperti belum punya prinsip sendiri.
Rasanya kita selalu harus mendengarkan apa yang dikatakan orang kepada kita. Langsung kita masukkan dalam hati tanpa penyaringan terlebih dahulu. Kita jadi cepat emosi, marah, sedih, putus asa, dan sakit hati. Kita melakukan apapun agar orang lain bahagia tanpa memperhatikan perasaan kita sebenarnya.
Bahkan kita sering menilai buruk apa yang dikatakan orang kepada kita. Bisa dibilang berprasangka yang nggak-nggak.
Capek juga ya apabila fikiran kita selalu berbicara tanpa rem berhenti. Fikiran kita jadi penuh.oleh prasangka-prasangka. Hem...
Sekarang kita bisa belajar untuk mengubah itu..
Sejatinya kebahagiaan terletak di dalam diri sendiri. Lebih sering tersenyum. Kalaupun nggak mudah, paksakan untuk tersenyum. InsyaAllah rezeki akan datang dengan kamu bisa tersenyum. InsyaAllah semua akan jadi biasa untuk bisa tersenyum..
Kedua, perbanyak bersyukur atas segala yang kamu miliki saat ini..
Bersyukur atas nikmat sehat, nikmat berkeluarga, nikmat pertemanan, nikmat pekerjaan, nikmat hidayah yang Allah berikan.
Ketiga, kita harus selalu menyadari, bahwa hidup ini terlalu singkat bila kita habiskan dengan ketidakbahagiaan hati.
Jangan biarkan semua masalah yang menimpamu membuatmu mudah sekali untuk mengeluh. Itu artinya kamu kalah.Taklukkan kesulitan dan segala masalahmu dengan usaha dan semangat. Tak lupa selalu mendekatkan diri kepada Allah. Karena hanya Allah yang dapat membuat kesulitan kita menjadi mudah.
Allah memberikan segala kesulitan di hidupmu hanya untuk menguji kesabaranmu dan keikhlasanmu menjalaninya. Dan agar kamu selalu bisa belajar. InsyaAllah saat kamu ikhlas dan sabar saat melaluinya, kamu bisa menjadi orang yang baru, Tetap tersenyum, belajar, dan membaur :)
Punyai prinsip hidup yang kuat yang tak bisa diperintah orang seenaknya. Semangat ya :)
Alhamdulillahirobbil'alamin kita masih diberikan nikmat sehat sampai hari ini.
Sahabat Umi, pernahkah kalian merasa terombang ambing mengikuti apa yang dikatakan orang? Seperti belum punya prinsip sendiri.
Rasanya kita selalu harus mendengarkan apa yang dikatakan orang kepada kita. Langsung kita masukkan dalam hati tanpa penyaringan terlebih dahulu. Kita jadi cepat emosi, marah, sedih, putus asa, dan sakit hati. Kita melakukan apapun agar orang lain bahagia tanpa memperhatikan perasaan kita sebenarnya.
Bahkan kita sering menilai buruk apa yang dikatakan orang kepada kita. Bisa dibilang berprasangka yang nggak-nggak.
Capek juga ya apabila fikiran kita selalu berbicara tanpa rem berhenti. Fikiran kita jadi penuh.oleh prasangka-prasangka. Hem...
Sekarang kita bisa belajar untuk mengubah itu..
Sejatinya kebahagiaan terletak di dalam diri sendiri. Lebih sering tersenyum. Kalaupun nggak mudah, paksakan untuk tersenyum. InsyaAllah rezeki akan datang dengan kamu bisa tersenyum. InsyaAllah semua akan jadi biasa untuk bisa tersenyum..
Kedua, perbanyak bersyukur atas segala yang kamu miliki saat ini..
Bersyukur atas nikmat sehat, nikmat berkeluarga, nikmat pertemanan, nikmat pekerjaan, nikmat hidayah yang Allah berikan.
Ketiga, kita harus selalu menyadari, bahwa hidup ini terlalu singkat bila kita habiskan dengan ketidakbahagiaan hati.
Jangan biarkan semua masalah yang menimpamu membuatmu mudah sekali untuk mengeluh. Itu artinya kamu kalah.Taklukkan kesulitan dan segala masalahmu dengan usaha dan semangat. Tak lupa selalu mendekatkan diri kepada Allah. Karena hanya Allah yang dapat membuat kesulitan kita menjadi mudah.
Allah memberikan segala kesulitan di hidupmu hanya untuk menguji kesabaranmu dan keikhlasanmu menjalaninya. Dan agar kamu selalu bisa belajar. InsyaAllah saat kamu ikhlas dan sabar saat melaluinya, kamu bisa menjadi orang yang baru, Tetap tersenyum, belajar, dan membaur :)
Punyai prinsip hidup yang kuat yang tak bisa diperintah orang seenaknya. Semangat ya :)
Senin, 18 Juni 2018
Sesuatu yang tak pasti
Tuhan..
Jika Kamu menginginkanku untuk menunggu sesuatu yang tak pasti, aku akan menunggu...
Jika Kamu menginginkanku untuk lebih sabar dalam sesuatu yang tak pasti, aku akan bersabar..
Jika Kamu menginginkanku untuk tidak berkeluh kesah untuk sesuatu yang tak pasti dalam hidupku, aku akan mencoba...
Sesuatu yang tak pasti, yang hanya Kamu yang tahu akhirnya..
Kamu memberikanku sesuatu yang tak pasti, hanya untuk menguji seberapa kuat aku mampu memikul dan menghadapinya. Seberapa sabar dan ikhlas aku menerimanya...
Sesuatu yang tak pasti, apakah itu?
Penantian jodoh, masa depan dan kebahagiaan dengan orangtua dan orang-orang yang dicintai..
Kapankah semua itu berakhir dengan indah?
Hanya Allah yang tahu
Dan aku coba bersabar dan ikhlas dalam diam...
Cita-cita terbesar adalah dapat diterima di jannah Mu kelak.Aamiin...
Jika Kamu menginginkanku untuk menunggu sesuatu yang tak pasti, aku akan menunggu...
Jika Kamu menginginkanku untuk lebih sabar dalam sesuatu yang tak pasti, aku akan bersabar..
Jika Kamu menginginkanku untuk tidak berkeluh kesah untuk sesuatu yang tak pasti dalam hidupku, aku akan mencoba...
Sesuatu yang tak pasti, yang hanya Kamu yang tahu akhirnya..
Kamu memberikanku sesuatu yang tak pasti, hanya untuk menguji seberapa kuat aku mampu memikul dan menghadapinya. Seberapa sabar dan ikhlas aku menerimanya...
Sesuatu yang tak pasti, apakah itu?
Penantian jodoh, masa depan dan kebahagiaan dengan orangtua dan orang-orang yang dicintai..
Kapankah semua itu berakhir dengan indah?
Hanya Allah yang tahu
Dan aku coba bersabar dan ikhlas dalam diam...
Cita-cita terbesar adalah dapat diterima di jannah Mu kelak.Aamiin...
Selasa, 22 Mei 2018
Lakukan Walau Hanya Sendiri. Kenapa Tidak?
Pernah nggak saat kamu melakukan suatu hal yang baik secara berkelompok dengan teman dekatmu. Dan saat melakukan itu sangat mengasyikkan karena memang kamu tidak sendiri. Dan saat kamu melakukan itu sendirian, kamu lebih memilih tak melakukannya.
Contohnya, dulu saat masih SMA, di bulan Ramadhan, aku beramai-ramai semangat banget untuk melakukan sholat subuh berjamaah, sholat tarawih dan tadarus di mushola. Karena apa? Ada teman yang selalu bareng aku melakukan itu semua. Jadi kita merasa termotivasi untuk melakukan hal baik karena memang ada temannya..
Tapi setelah kita disibukkan untuk kuliah, teman yang dulu bareng untuk melakukan itu, sekarang ada di luar kota. Lalu bagaimanakah nasib kita? Ada rasa malas, tak ada keseruan lagi karena tak ada temannya. Dan dalam hati, 'Ah, yasudahlah. Tadarus di rumah aja, sholat subuh di rumah aja' dll..
Suatu hari, ada suatu pesan yang tak sengaja aku tangkap dari seseorang. Dia berbicara sama orang lain, tapi aku tak sengaja denger. "Lakukan hal baik, walau sendirian. Toh, saat kamu mati, amal setiap orang adalah kewajiban masing-masing orang itu. Orang lain tak bertanggungjawab atas amalmu begitupun sebaliknya."
Jujur, aku terenyuh banget dengernya... Aku sependapat..
Sampai sekarang, aku masih inget kata-kata itu. Dan sebisa mungkin bisa mengaplikasikannya sendiri..
Contohnya, dulu saat masih SMA, di bulan Ramadhan, aku beramai-ramai semangat banget untuk melakukan sholat subuh berjamaah, sholat tarawih dan tadarus di mushola. Karena apa? Ada teman yang selalu bareng aku melakukan itu semua. Jadi kita merasa termotivasi untuk melakukan hal baik karena memang ada temannya..
Tapi setelah kita disibukkan untuk kuliah, teman yang dulu bareng untuk melakukan itu, sekarang ada di luar kota. Lalu bagaimanakah nasib kita? Ada rasa malas, tak ada keseruan lagi karena tak ada temannya. Dan dalam hati, 'Ah, yasudahlah. Tadarus di rumah aja, sholat subuh di rumah aja' dll..
Suatu hari, ada suatu pesan yang tak sengaja aku tangkap dari seseorang. Dia berbicara sama orang lain, tapi aku tak sengaja denger. "Lakukan hal baik, walau sendirian. Toh, saat kamu mati, amal setiap orang adalah kewajiban masing-masing orang itu. Orang lain tak bertanggungjawab atas amalmu begitupun sebaliknya."
Jujur, aku terenyuh banget dengernya... Aku sependapat..
Sampai sekarang, aku masih inget kata-kata itu. Dan sebisa mungkin bisa mengaplikasikannya sendiri..
Senin, 21 Mei 2018
Pesan Ramadhan 2018. Ahli Surga
Ada si fulan, sebut saja Husain, yang bertemu nabi Muhammad.
Nabi Muhammad SAW berkata padanya, "Dia adalah ahli surga." sambil menunjuk si fulan yang lain, sebut saja Ikhsan.
Lantas Husain pun berfikir dalam hati. Bagaimana bisa Ikhsan disebut nabi Muhammad SAW sebagai ahli surga? Saking penasarannya dia pun menghampiri Ikhsan di kediamannya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh". jawab Ikhsan
"Saudaraku Ikhsan, bolehkah saya menginap beberapa hari di kediamanmu? Karena saya ingin mencari barang untuk di jual di sekitar sini." terang Husain mencoba meyakinkan Ikhsan agar bisa menginap dan mencari tahu apa keistimewaan Ikhsan yang disebut sebagai ahli surga.
"Boleh saudaraku. Silahkan."
Hari Pertama
Ikhsan hanya mengerjakan sholat 5 waktu di rumah seperti biasa, tak ada yang lebih dari itu.
Hari Kedua
Ikhsan juga tak melakukan puasa sunnah setiap waktu, ibadah sholat sunnah juga jarang.. 'Lantas apa yang membuat dia bisa di sebut ahli surga?' Husain pun tambah penasaran.
Hari Ketiga
Husain masih mengamati kebiasaan yang di lakukan Ikhsan. Namun tak ada perubahan. Semua yang dilakukan Ikhsan adalah ibadah yang biasa saja. Husain pun tambah frustasi bertanya-tanya dalam hati.
Melihat Husain yang tampak tak baik dari raut wajahnya, Ikhsan pun bertanya..
"Ada apakah gerangan wahai saudaraku? Wajahmu sepertinya menyiratkan kebingungan? Sudahkah menemukan barang-barang yang akan kamu jual di kotamu dari sini?" tanya Ikhsan.
"Maafkan saya saudaraku. Sebenarnya saya berbohong bahwa saya ingin mencari barang-barang untuk dijual lagi. Saya menginap di kediamanmu hanya ingin mengetahui keseharianmu seperti apa. Karena kata Nabi, kamu adalah ahli surga." terang Husain sambil menunduk pasrah.
"Jadi seperti itu." jawab Ikhsan sambil tersenyum. "Saya bukanlah orang yang istimewa saudaraku. Keseharian saya biasa-biasa saja, ibadah wajib dan tidak setiap waktu melakukan ibadah sunnah. Tapi ada 2 hal yang saya tidak pernah untuk melakukannya." terang Ikhsan.
"Apakah gerangan itu wahai saudaraku?"tanya Husain balik.
"Saya tidak pernah iri pada orang lain. Dan saya tidak pernah membicarakan keburukan orang."
Nabi Muhammad SAW berkata padanya, "Dia adalah ahli surga." sambil menunjuk si fulan yang lain, sebut saja Ikhsan.
Lantas Husain pun berfikir dalam hati. Bagaimana bisa Ikhsan disebut nabi Muhammad SAW sebagai ahli surga? Saking penasarannya dia pun menghampiri Ikhsan di kediamannya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh". jawab Ikhsan
"Saudaraku Ikhsan, bolehkah saya menginap beberapa hari di kediamanmu? Karena saya ingin mencari barang untuk di jual di sekitar sini." terang Husain mencoba meyakinkan Ikhsan agar bisa menginap dan mencari tahu apa keistimewaan Ikhsan yang disebut sebagai ahli surga.
"Boleh saudaraku. Silahkan."
Hari Pertama
Ikhsan hanya mengerjakan sholat 5 waktu di rumah seperti biasa, tak ada yang lebih dari itu.
Hari Kedua
Ikhsan juga tak melakukan puasa sunnah setiap waktu, ibadah sholat sunnah juga jarang.. 'Lantas apa yang membuat dia bisa di sebut ahli surga?' Husain pun tambah penasaran.
Hari Ketiga
Husain masih mengamati kebiasaan yang di lakukan Ikhsan. Namun tak ada perubahan. Semua yang dilakukan Ikhsan adalah ibadah yang biasa saja. Husain pun tambah frustasi bertanya-tanya dalam hati.
Melihat Husain yang tampak tak baik dari raut wajahnya, Ikhsan pun bertanya..
"Ada apakah gerangan wahai saudaraku? Wajahmu sepertinya menyiratkan kebingungan? Sudahkah menemukan barang-barang yang akan kamu jual di kotamu dari sini?" tanya Ikhsan.
"Maafkan saya saudaraku. Sebenarnya saya berbohong bahwa saya ingin mencari barang-barang untuk dijual lagi. Saya menginap di kediamanmu hanya ingin mengetahui keseharianmu seperti apa. Karena kata Nabi, kamu adalah ahli surga." terang Husain sambil menunduk pasrah.
"Jadi seperti itu." jawab Ikhsan sambil tersenyum. "Saya bukanlah orang yang istimewa saudaraku. Keseharian saya biasa-biasa saja, ibadah wajib dan tidak setiap waktu melakukan ibadah sunnah. Tapi ada 2 hal yang saya tidak pernah untuk melakukannya." terang Ikhsan.
"Apakah gerangan itu wahai saudaraku?"tanya Husain balik.
"Saya tidak pernah iri pada orang lain. Dan saya tidak pernah membicarakan keburukan orang."
Langganan:
Postingan (Atom)