Masa kecil yang penuh kegembiraan. Tak memikirkan tekanan dari orang lain. Kita bebas berekspresi. Kebebasan itu adalah sejatinya kebahagiaan bagi anak kecil. Makannya saat dewasa, kenapa orang ingin kembali ke masa kecil, karena mereka tak tahan dengan segala tekanan kehidupan yang tidak memberikan mereka ruang untuk bernafas lega, bersantai dan menikmati kehidupan tanpa tuntutan.
Dulu masa kecilku, aku juga bersaing. Dengan seseorang yang masih keluarga, saudara sekaligus teman. Dia menyebalkan saat itu. Aku ingin mengalahkannya, tapi dalam sisi positif. Bahkan aku pun iri setiap pencapaiannya. Aku ingin kita terus berkompetisi. Memenangkan segala kompetisi antara kita berdua adalah keseruan kita. Bukan hal negatif, melalui itu, kita bisa mempunyai semangat juang untuk bertahan dalam kehidupan yang semakin keras ini. Aku pun terus ingin menjadi pribadi yang baik dan lebih baik lagi.
Di masa dewasa, bukan hanya tuntutan kehidupan yang bisa membuat sebagian orang menjadi lemah. Namun sebuah rasa tidak dihargai orang lain atas apa yang mereka kerjakan. Sejatinya sifat orang memang tak luput dari keinginan untuk dihargai orang lain atas jerih payah yang mereka kerjakan. Kembali lagi kita buka kitab penerang kehidupan umat Islam Bahwasanya kita dianjurkan untuk tidak berharap apapun kepada manusia, termasuk berharap atas kehormatan. Karena bila bukan kehormatan yang kita dapat, kita akan kecewa. Untuk mereka sang penyembah kehormatan, kedudukan.
Sudah berkali-kali kata-kata Islami berdengung di buku maupun sosial media. Bahwasanya manusia itu semua sama. Tidak sepantasnya menyombongkan hal yang tak abadi kita bawa mati. Yang membedakan hanyalah iman dan takwa. Kadar amal untuk bekal akhirat.
Namun kembali lagi, kita banyak menemui orang yang sangat haus akan kedudukan, kehormatan dan kesewenang-wenangan. Atau bahkan kita salah satu orang tersebut namun kita tak sadar.
Ada juga orang yang saat melihat kita bahagia, mereka benci. Saat melihat kita sengsara, mereka bahagia. Beginilah hidup. Maka, jangan tunjukkan kebahagiaanmu kepada khalayak ramai. Cukup rasakan dan berbagi kebahagiaanmu dengan keluarga dan orang-orang yang menyayangimu.
Bentengi diri kepada sang Pencipta, karena sebaik-baik pegangan yang tak pernah runtuh.
Kembali lagi ke teman masa kecil, sekaligus lawan dalam artian teman berjuang. Dia sekarang tak ada kabar. Kami tidak pernah berhubungan bahkan di era yang semakin canggih adanya teknologi. Dia seperti mencoba untuk menghapus masa lalu, berjuang sendirian untuk mencapai masa depan nya.
Kuceritakan ini, karena aku ingin menyimpannya dalam memoriku, bahwa dia adalah teman masa kecilku, saudara dan partner berjuang ku dulu. Yang aku ingin mengingatnya saat aku mulai lemah untuk berjuang dewasa ini.
Aku masih punya mimpi. Banyak sekali. Namun ada faktor yang membuat mimpi itu tertutupi batu bata sedikit demi sedikit. Hingga aku ragu untuk bisa mencapainya, hingga aku tak dapat melihatnya lagi.
Aku ingin besekolah hingga S2, namun tak disetujui oleh calon imam ku kelak. Mungkin akan beda cerita saat aku mempunya seseorang yang juga bervisi untuk pendidikan. Dia yang dapat mengijinkanku dan menyemangatiku bahkan ikut sepertiku untuk menimba ilmu lebih tinggi lagi. Dan kita berjuang sama-sama untuk meraih kesuksesan bersama.
Apa solusinya Ya Allah? Apakah aku harus menunda mimpi ku untuk pendidikan. Apakah aku harus berkeluarga dulu. Menabung untuk memiliki rumah idaman dan menyekolahkan anak-anak ku kelak. Baru berjuang untuk pendidikan ku di masa tua ku? Aku takut mimpiku terkubur seiring usia ku bertambah. Aku takut menyerah dalam memperjuangkan mimpiku sekolah setinggi-tinggi nya.
Semoga engkau calon imam ku, membaca ini dan mengerti akan perasaanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar